PANGGILAN UNTUK MENOLAK KETERASINGAN

Oleh: Setiaji P.

KOTA sedari awal sejarahnya adalah ruang ketika pertanian berujung dan industri bermula. Kota-kota senantiasa mengandung hasrat menjemput janji modernisasi seraya menerus melucuti kesempitan horison tradisi agraris desa. Kota-kota mutakhir menegaskan keberbedaan itu dalam caranya yang kian garang : nilai tukar pertanian merosot secara gradual di hadapan nilai tukar barang-jasa konsumsi kota. Barang plastik merambah desa dan berlaku sebagai undangan, persisnya sebagai rayuan maut, kepada warga kampung untuk berurbanisasi. Sebaliknya, padi dari desa disedot oleh kota tanpa kota mau tahu kisah petani dan cangkulnya. Ini sebuah tampilan ketimpangan terpelihara yang dengan sendirinya merupakan bujukan maut bagi warga desa untuk terhisap sebagai laron-laron kota.

URBANISASI adalah masalah utama peradaban kota. Urbanisasi bukan melulu migrasi penduduk desa ke kota demi ekonomi penghidupan, namun juga merupakan hamparan penciptaan kebudayaan urban yang meliputi segenap populasi nasional. Pada tataran basis penghidupan, arus ini merupakan serombongan besar warga pedesaan yang secara ajeg tercerabut dari basis tani atau tanah. Mereka beralih menjadi sebaran terserak para kuli industri, para pedagang di sektor ekonomi eceran mau pun pedagang kaki lima. Seluruhnya itu praktis berposisi marjinal dan senantiasa jauh kaitannya dengan penguasaan alat produksi, disain maupun distribusi produksi : kita menyaksikan manusia-manusia yang berkerumun namun jauh dari tradisi penciptaan. Periksalah salah satu sosok keramaian itu, maka segera kita dengar suara terhimpit ini : kota yang dulunya merupakan harapan akan kesempatan, kontan beralih menjadi jebakan kesempitan. Sehimpunan besar kuli bekerja secara rutin dalam irama yang tinggi, dalam jam yang panjang, dalam upah yang darurat dan dalam jarak yang jauh dengan benda-benda jadi hasil kerjanya. Dengan kata lain, inilah sekumpulan besar warga yang terasing dengan keringat kerjanya sendiri, hari demi hari.

KOTA adalah kita yang teratur menuntut keterjaminan. Semacam standar infrastruktur : air dan udara bersih, sampah terangkut, keamanan, ruang publik, sekolah, transportasi publik, tempat ibadah dan pemakaman dst. Tuntutan-tuntutan tersebut berkembang menjadi ‚normal’ dalam artian yang lain. Hasil kebun, tani dan tambang mengaliri urat darah kehidupan aspal, trotoar dan gedung jangkung. Lampu-lampu kota kemudian meruangkannya – yang dalam banyak hal berarti meng-uang-kannya – menjadi kebudayaan, di ruang-ruang pertunjukan, di museum dan galeri, di halaman buku dan toga para sarjana, di layar kaca, di ranjang wangi para bangsawan pun di kasur apek para buruh. Semuanya tidak gratis. Kita membayar dalam posisi layaknya investor yang menuntut economic returns. Sebuah tuntutan yang semakin kencang lantaran sejalan dengan kian langkanya standar pelayanan publik tersebut. Alhasil, bahkan untuk udara bersih pun kita berada dalam libatan komodifikasi yang kian pekat. Dengan kata lain komodifikasi itulah yang menjadi ukuran normal : ia melekat dan bertumbuh seakan dari dalam diri kita yang paling personal.

WARGA yang terasing bahkan dengan dirinya sendiri, tumbuh serba pasif dan bermental pensiunan – kendati ia sebenarnya bekerja! Waktu luang warga, praktis hanya setelah pukul 17 sore. Di metropolitan Jakarta, Anda terpaksa tunggu hingga pukul 20 agar tidak terjebak macet untuk bisa sampai ke rumah yang jauh di pinggiran. Rumah, itulah tempat warga melarikan diri pada kesempatan pertama ketika waktu luang tiba. Toh, nyatanya rumah adalah televisi, media pers dan realitas gosip – termasuk di dalam ‘rumah’ ini adalah berharap dan berdoa agar menang judi togel. Boleh jadi mimpi warga ketika tidur pun telah bergeser, dari yang serba adem dan segar menjadi semata adegan perburuan atau diburu. Lalu pagi-pagi benar warga harus berangkat menjadi kuli dengan pikiran yang layu dan tenaga hasil dopingan. Begitulah senantiasa hari ke hari, dengan pergerakan matahari bukan lagi sebagai ukuran waktu. SUARA apakah yang boleh keluar dari warga? Pertama-tama, yang kita alami selama ini adalah kota yang berwarga nyatanya praktis hanya muncul ketika ada sensus dan Pemilu lima tahun sekali. Kanak-kanak dan buyung belum akil baliq tentu tak masuk hitungan sementara lapangan bermain yang mendukung pertumbuhan respon motorik — berlari, meloncat, menari, teriakan berirama, permainan kolektif – telah lama hilang. Diluar siklus lima tahunan, warga tercatat hadir dalam bentuk membayar pajak, retribusi, rekening-rekening bulanan dan lalu adiministrasi perkawinan, kelahiran, kematian…Nama-nama dan suara hadir melulu sebagai arsip ritual administratif. Dibalik itu adalah sebuah proses panjang keseharian yang memapankan jenjang hierarkis sistem relasi antar warga. Suara-suara dikanalkan dan sahih jika dan hanya jika melalui sistem perwakilan. Alhasil, nyaris segenap soal hajat hidup orang banyak dirumuskan dan diputuskan nun jauh dari atas. Di bawah, warga sepi iseng sendiri berhadapan dengan tembok-tembok. Apa boleh buat, kota berbiak bukan lagi sebagai hamparan alam pertama, bukan lagi sebagai pertautan hidup antar manusia, flora-fauna dan alam terkembang. Kita sedang membentuk dan dibentuk oleh sejarah kematian yang terus menerus.

SUARA kedua adalah suara yang diam-diam terselip dalam pojok kenangan. Ia selalu hadir sebagai panggilan yang kerap tak termaknai, lirih dan kerap muncul hanya dalam momen-momen yang khusus dan personal. Dibalik lapis demi lapis Kota yang memang kian kita sadari sebagai alam bentukan (second nature), ia toh tak lepas dari memori akan alam pertama. Demikianlah, misalnya kita temui nama-nama yang masih berlaku hingga sekarang seperti‚ Kampung Daun‚ Permata Hijau‚ Sawah Besar‚ Jatibening, hingga ke produk industri yang masih memanggil alam pertama seperti, AC Segar Udara Gunung. DENGAN kata lain, kenangan akan “alam pertama” dari masa lalu, belum tentu merupakan sejarah yang terkuburkan putus tuntas. Pada masanya kota-kota selalu terbangun berbasiskan kisah-kisah, legenda, mitos dan cara-cara mengorganisasikan hidup, yang hanya muncul melalui proses percakapan dan pertemuan langsung — secara muka berhadapan muka — antar warga. Keputusan ya atau tidak, pernyataan kesepakatan, ungkapan ekspresi selalu tampil bergaung dan berwibawa, manakala melibatkan langsung keringat dan doa antar warga dalam forum demokrasi langsung.

DEMIKIANLAH memori dalam individu-individu sebenarnya selalu memanggil. Ia menanti jawab. Jawaban yang berdaulat harus direbut. Buang yang tak guna, entengkan bebanmu dan REBUTLAH KEMBALI KOTA.

Ungkapkan pendapat Anda