Oleh. F.W. Pei
KECEPATAN bisa jadi adalah salah satu teks sakral ideologis yang merasuki dunia modern. Embel-embel instant, fast, high-speed, high access atau ekspres telah menjadi warna yang akrab di dalamnya. Layanan informasi cepat, large – bandwidth, processor berkecepatan tinggi, pesawat jet, fastfood, adalah beberapa hal yang merepresentasikan bagaimana dunia modern menjawab dan menyikapi kebutuhan akan kecepatan. Sebuah command (perintah) yang tadinya dieksekusi dalam bilangan menit pada komputer generasi awal, saat ini dapat dituntaskan hanya dlm hitungan detik. Rutinitas makan pagi yang memakan banyak waktu, saat ini hanya butuh eksekusi air panas yang diproses dalam tiga menit untuk sarapan ‘penuh energi’; sereal instan, mie gelas instan, kopi three in one sachet dan produk kemasan-kemasan instan lain yang instruksi penyajiannya kurang lebih sama; “Rendam dalam air mendidih selama kurang lebih 3 menit!” atau “Dapat langsung dimakan!”
TAK salah lagi semakin modern peradaban, semakin cepat segala sesuatu dapat diselesaikan. Karenanya manusia modern juga dituntut melakukan segala sesuatunya dengan semakin cepat. Berjalan cepat, berkomunikasi cepat (SMS dan Chatting telah melahirkan kultur komunikasi baru yang serba instan, singkat dan cenderung tanpa emosi) telah menjadi representasi masyarakat dalam peradaban yang semakin maju. Seperti yang ditulis Eric Schlosser dalam “Dunia Fast food”: di salah sebuah pabrik pengepakan daging di Chicago awalnya mereka menyembelih sekitar 50 ekor sapi dalam satu jam, kemudian dalam 20 tahun kemudian naik menjadi 175 ekor sapi perjam dengan jumlah buruh yang sama. Pada zaman sekarang beberapa pabrik menyembelih sampai 400 ekor perjam. Sekitar setengah lusin hewan permenit dikirim turun lewat satu jalur produksi, dipotong-potong oleh buruh yang berusaha mati-matian untuk tidak jatuh terjengkang. Disini kecepatan dimaksimalkan sedemikian rupa demi efisiensi dan efektifitas. Pola kerja eksploitatif berdasarkan keuntungan maksimum perusahaan seperti ini telah menjadi spirit yang melatarbelakangi kultur dunia kerja kita.
JAM pada zaman inipun bukan hanya sebagai penunjuk waktu, tetapi telah menjadi perpanjangan tangan ‘disiplin waktu’ para pekerja dalam logika industri. Secara tidak langsung, jam dengan tepat mengatur kapan kita harus pulang, kapan kita harus tidur, kapan kita harus buru-buru bangun dan kembali bekerja. Manusia modern cenderung tidak memiliki cukup waktu. 8 jam waktu bekerja, 5-8 jam untuk tidur, 2 sampai 4 jam di dalam kendaraan, 1 jam untuk makan, sisa hidup sehari kurang lebih 3 jam bilamana diperlukan masih dapat dijadikan waktu perpanjangan kerja alias lembur.
RUTINITAS dengan kecepatan tinggi yang menyesakkan ini membiakkan kejenuhan dan tingkat frustasi yang tinggi. Manusia teralienasi dari lingkungan sosialnya dan untuk itu butuh pelarian yang ‘menghibur’ sekedar menenangkan perasaan dari serangan virus kekosongan makna. Disaat seperti inilah kita terjangkit epidemi konsumerisme waktu luang dan akhir pekan, sebagian besar memenuhi tempat-tempat wisata alam bertiket bersama anggota keluarga, dan yang lainnya memadati mall-mall, factory outlet dan cafe-cafe. Mengunjungi ruang-ruang amnesia bagi realitas jalanan diluar sana (dimana tidak ada peminta-minta, orang-orang miskin, bebas dari rentetan klakson dan polusi). Setiap sudutnya menyajikan pencitraan sensasi kemakmuran yang memberi kenyamanan dan ilusi kontradiktif yang telah tercabut dari rutinitas harian – sensasi dunia lambat, dunia kolektif, dunia yang akrab dan dekat.
FAST FOOD mungkin salah satu industri kontemporer yang paling tepat merepresentasikan paradigma zaman cepat dan mekanis seperti ini. Mereka mengembangkan segala bentuk sistem peningkatan efisiensi, segala yang terprediksi, terkalkulasi, dan kontrol melalui substitusi non-manusia untuk teknologi manusia yang dengan ini membawa rasionalitas sekaligus irasionalitasnya; dehumanisasi. Industri fast food tidak butuh pekerja-pekerja yang mampu mengolah makanan dengan terampil atau menyajikan setiap piring hidangan dengan teknik tinggi dan penuh kesungguhan (passion). Segala sesuatunya telah terstandarisasi, seperti halnya McDonald, mereka punya ‘alkitab’ setebal kurang lebih 700 halaman yang berisi instruksi rinci tentang penggunaan alat-alat, bagaimana sajian dalam menu harus terlihat sampai bagaimana pelayan memberi salam kepada pelanggan. Mereka tidak butuh individualitas, bakat, manusia-manusia otentik dan berkarakter. Sistem operasi dan mesin-mesin pendukungnya ini telah mereduksi individualitas dan keterampilan, sehingga setiap pekerja dapat dengan mudah digonta-ganti dan diupah dengan biaya murah.
INDUSTRI fast food yang franchise-franchisenya tumbuh setiap dua jam sekali diseluruh dunia ini tidak saja menjadi ancaman bagi dehumanisasi dan bisnis-bisnis kecil mandiri, lebih jauh mengubah pola dan kebiasaan makan manusia serta menarik keragaman budaya dalam homogenitas dan kreolisasi. Andy Isaacson dalam essainya menyatakan; budaya impor terkadang sering terlihat salah tempat dan tak memiliki makna pada konteks lokal. Mereka muncul dan tersebar begitu saja tanpa sejarah, transplantasi kultural yang masuk kedalam sejarah yang spesifik dan memiliki tatanan budaya tertentu.
BILA pada tahun-tahun lampau kita dapat mengkonsumsi makanan yang begitu kaya dan beragam dengan seratus lebih jenis spesies yang berbeda, akhir-akhir ini dengan budaya fastfood kita paling hanya mengkonsumsi makanan yang berasal dari 10 atau 12 jenis spesies saja. Yang lebih mengkawatirkan, budaya mengkonsumsi makanan fast food inilah mungkin yang paling bertanggung jawab atas permasalahan-permasalahan kesehatan diseluruh dunia, penyakit jantung, stroke, diabetes, kanker, obesitas. Morgan Spurlock dalam film dokumenternya “Super Size Me” ingin membuktikan bahwa Mc Donalds sebagai industri fast food terbesar yang setiap harinya melayani 46 juta orang diseluruh dunia bukanlah pilihan yang layak untuk dikonsumsi manusia. Untuk ini ia mengorbankan dirinya dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang diproduksi oleh Mc Donald selama 30 hari. Hal ini dilakukannya dibawah pengawasan 3 orang dokter dan ahli nutrisi. Pada hari pertama pemeriksaan kesehatan, Morgan berada dalam kondisi yang baik, tes darah, jantung, kolesterol, fungsi hati semuanya menunjukkan kondisi normal. Setelah 30 hari berturut-turut mengkonsumsi produk-produk Mc Donalds berat badannya naik dari 185 pon menjadi 210 pon, lemak di tubuhnya naik 18%, kolesterol meningkat, mengalami kegelisahan dan fungsi seks menurun, yang lebih fatal ia mengalami gangguan fungsi hati; dokter pesimis untuk bisa mengembalikan kesehatannya seperti sediakala.
AKHIRNYA sebuah pertanyaan muncul, apa yang hilang dalam dunia yang bergerak cepat? Sensasi kita dalam mengalami waktu. Pengalaman mengalami waktu adalah pengalaman mengalami hidup. Mengindra detik demi detik hidup yang mengalir dalam sungai waktu membuka ruang kesadaran kontemplatif bagi pengindraan realitas sedalam-dalamnya. Pengindraan yang melahirkan bentuk-bentuk kepekaan, kepedulian, daya kreasi dan penciptaan. Tidak heran bila hiruk pikuk dunia modern serta kecepatannya yang bermuara pada pergerakan rantai kapital ini membuat kita terputus dari lingkungan sosial, yang juga berakibat fatal pada pengrusakan terhadap lingkungan serta kualitas kemanusiaan itu sendiri. Menjadi manusia-manusia nomad yang kehilangan orientasi dan dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan asing diluar dirinya.
GAYA hidup lambat bukan berarti menjadi manusia yang tidak menghargai waktu, hal ini tidak berkenaan dengan berapa lama kita membuat dan mengerjakan sesuatu, tetapi lebih kepada pendekatan holistik bagi peningkatan kesadaran individual dan menjadi individu yang berkuasa dalam mengendalikan ritme hidupnya sendiri, memilih jalan hidupnya sendiri.
MULAILAH kembali ke Slowfood, Slowlife. Hidup ini singkat, jadi kenapa harus buru-buru bila tujuan setiap orang pada akhirnya sama. Layaknya kendaraan yang melaju dijalur cepat, yang tertangkap hanya lanskap kabur dan kelebat lampu yang membentuk garis lurus, dan bila laju kendaraan melambat kita menyaksikan pepohonan, ladang terhampar dan kekayaan denyut hidup tak begitu saja terlewat. Jadi, menepilah dan…Jalani hidupmu dijalur lambat.
fahmi faqih berkata,
Oktober 18, 2006 @ 11:06 am
Saya suka tulisan ini. Apakah Anda kawan Pei yang pernah tinggal di Bandung?
Fahmi Faqih
Novi berkata,
November 13, 2006 @ 10:36 pm
Aku juga percaya bahwa life is not a race. When you run so fast you miss half of fun you may gain of getting there. So do take it slower.
Nice Artikel Pei. Thx for sharing.
arif w berkata,
Januari 12, 2007 @ 5:46 pm
aduh pey pantes gue tambah gendut..
kirain sehat taunya penyakit..
kaco kaco..
anyway thx
hana regina berkata,
Juli 5, 2007 @ 9:35 am
sebenarnya yang serba fast itu cuma manifestasi ego purba manusia “siapa cepat dia dapat”nya manusia.emang banyak sih yang bisa didapet, kalo serba cepat..tapi itu..rasanya gak berkesan(hayuuu apa coba).
cepet belum tentu up todate.
belum tentu paling sophisticated. lambat?? pasti selamat. sukses Pei..aku suka idenya. pasti kamu bakal disayang empok2 jamu yang tetep setia berprinsip…obat tradisional biar lama kerjanya tapi ngefek banget dari pada obat dokter yg..who knows…jadi mall praktek
Ferdi aka Lemi4 berkata,
Desember 22, 2007 @ 6:05 am
Buku siapa itu, sori lupa: McDonaldization?
Sempat menjadi textbook wajib tak resmi pas kuliah komunikasi & kebudayaan dulu… Buku Antrop tentunya
(Anak Kom mah masih lebih jadi buruh hiperkapitalisme. Atau sedang berubah kah?)
Anyways, jelas lu tau lah Pei gue sepakat bahwa penihilan emosi dalam keseharian dunia kerja adalah sebuah gejala yang sakit.
Tapi kenapa lu nggak nongol pas Committee Screening?
[nggak nyambung yah? hehe :p]
Chic berkata,
Mei 30, 2008 @ 4:24 pm
Fast food? Mencoba mengurangi meski kadang-kadang makan juga. Abis praktis sih.. Hehehe
Slow life? Pernah nyoba, yang ada saya malah stress
jadi ya kembali sedia kala aja lah, terima nasib
ono semblang berkata,
September 8, 2008 @ 4:37 pm
slow dan fast yang imbang. kalo manusia lebih canggih dari semua patologi selain lalat, mungkin ga kita jadi seperti lalat. anti bakteri/virus dan punya penetralnya sendiri. jadi ya nyebur terus tenggelamin kita di perubahan yang memang terus berjalan dan tak bisa kita hindari ya ga?, ya ga?
Marin berkata,
Oktober 29, 2008 @ 5:50 pm
Aaaahhh…. ini dia kampanye yang saya tunggu-tunggu…
didukung 100%..!!