About Us
AgenKultur adalah organisasi independen yang lahir di ruang histeria papan-papan billboard, ikon-ikon massif globalisasi dan kemacetan budaya lokal. Tumbuh di tengah budaya makanan paket hemat cepat saji, di tengah orang-orang yang berjalan cepat dan menjadi statistik yang hilang dalam keramaian.
AgenKultur menyadari bahwa bahaya terbesar saat ini bukanlah rambut kusam dan berketombe atau artis cekcok di layar TV. Disekeliling kita adalah realitas sosial anak-anak yang putus sekolah, mereka yang terlantar dijalan, keluarga-keluarga yang dimiskinkan oleh kebijakan bisnis global ditengah bius sensasi kemakmuran dan pembodohan yang disuntikkan dalam dosis besar oleh bisnis media.
AgenKultur berangkat dari mimpi warga kebanyakan di berbagai pelosok dunia, untuk bersama bergerak menyalakan mimpi demi kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang memajukan nilai-nilai kemanusiaan, keperdulian, kesetaraan dan perayaan atas keberagaman.
Agenkultur adalah bukan kami, tetapi kita, saya, anda, kolektivitas individu-individu yang ingin memaknai hidupnya dan terlibat lebih jauh dengan mengambil peran sekecil apapun itu untuk satu keyakinan; perubahan.
Profile Agenkultur
Agenkultur adalah sekumpulan seniman, aktivis, penulis, jurnalis dan pendidik yang concern terhadap permasalahan sosial dan pengembangan kebudayaan.Agenkultur sepakat bahwa setiap individu dapat menjadi agen perubahan sosial dan budaya dengan pelibatan diri yang lebih dalam dan kerja kolektif, atas dasar rasa keperdulian dan keadilan. Agenkultur juga berangkat dari kesadaran kritis serta penolakan terhadap konsumerisme dan ketidakadilan yang terjadi dalam ekonomi global yang juga berdampak langsung pada kemiskinan dan pemiskinan.
Pondasi AgenKultur:
Ketua: F.W. Pei, Wakil Ketua: Agus, Divisi Pendidikan: Yazid, Faisal, Divisi Budaya: Setiadji Purnasatmoko, Taufik Rahman, Syah Fadil Humas: Gufran A.R.
Contact : Mobile : 0816 193 1372
Email : agenkultur@yahoo.com fw_pei@yahoo.com
6 Tanggapan sejauh ini »
RSS Komentar · URI Lacak Balik
Rakom NHFM Karawang berkata,
Juli 22, 2007 @ 2:49 pm
Barangkali ada produk publikasi dari agenkultur, boleh dikirim ke kami untuk pencerahan orang kampung. (http://nhfm.wordpress.com)
agenkultur berkata,
Juli 24, 2007 @ 5:30 am
Terima kasih udah berkunjung, kita memang berencana untuk meluncurkan beberapa produk publikasi dan campaign juga. Tapi untuk sementara waktu ini masih belum tersedia. Ditunggu ya. Sukses untuk komunitas radionya. Salam.
Ekesh (Greeners Magazine) berkata,
Agustus 5, 2007 @ 5:08 pm
Masalah sosial memang bukan masalah perindividu. tetapi masalah pernegara ataupun perdunia. dalam arti setiap person yang merasa makhluk di tanah bumi ini.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa saya pun salah satu penyebab dari masalah sosial yang berdampak global tersebut. Sebagai contoh masalah global adalah “GLOBAL WARMING DISASTER” yang secara tidak kita sadari kita semua andil didalamnya.
Oleh karena itu saya disini memiliki satu solusi dari sekian banyak solusi lainnya.
untuk masalah yang satu ini (GLOBAL WARMING) mariiii kita sama2 untuk menjadikan menanam pohon sebagai gaya hidup. karena kita tidak bisa menurunkan kadar karbon, kita hanya bisa mengimbanginya.
Sekian dan Salam Hijau
Akang Ekesh Bujang Binangkit
Ekesh (Greeners Magazine) berkata,
Agustus 5, 2007 @ 5:12 pm
Oia Lupa… Terimakasih kepada AGEN KULTUR untuk kampanye masalah globalnya… Dan mariii kita Keep Fight dalam mengatasi masalah2 tersebut…
Saya, Anda dan seluruh manusia….. Adalah bagian dari setiap permasalahan…
Tinggal bagaimana kita mengatasi permasalahan tanpa permasalahan dibelakangnya… ciaaa kaya pegadaian aja.. hehehe
Peace out and Salam Hijau
Akang Ekesh Bujang Binangkit
agenkultur berkata,
Agustus 22, 2007 @ 11:15 am
Sip, didukung sekali gerakannya… Kita tidak hanya pecinta lapangan hijau alias Piala Dunia tetapi juga taman-taman kota yang hijau, perkampungan-perkampungan hijau, dan semua yang hijau-hijau hehe… Ayo kapan bertandang ke Jakarta? Kita dulu di Bandung bersama teman-teman seniman pernah jg tuh membuat agenda menanam pohon. Tetapi lucu jg kan klo kita menanam 100-200 pohon disini sementara pembalak2 liar itu terus membantai ribuan hektar pohon di hutan-hutan sana. Jadi selain menanam pohon like crazy, kampanyekan juga untuk menangkapi pembalak-pembalak liar dan cukong-cukong kayu liar like crazy… Ok Buddy?
Goodluck and Peace!
Bambang berkata,
Maret 10, 2008 @ 6:15 am
Selamat berjuang teman2 di Agen Kultur.
Banyak masalah yg kita hadapi pak dari masalah Global Warming, Harga Sandang dan pangan yang mahal, masalah energi dan ribuan masalah lain yg masih ngantri.
Kalau kita melihat sejarah kita ; bahwa Indonesia pernah mencapai tatanan masyarakat yang GEMAH RIPAH LOH JINAWI pada masa Majapahit, dimana LOH mengandung arti kesuburan lahan.
Tahukah teman2 kita bahwa menurut data resmi dari DepHut Mei 2002, bahwa lahan kritis alias lahan tidak subur di Indonesia telah mencapai 50% dari luasan lahan di seluruh indonesia atau lebih dari 90 juta hektar, yg dibenerin oleh pemerintah th 2007 hanya sekitar 70 jutaan hektar saja. Jadi bagaimana mungkin kita mewujudkan impian masyarakat yang Gemah Ripah Loh Jinawi, karena kita sudah tidak punya LOH (lahan subur) lagi, sejauh ini kita nggak melihat adanya gerakan memerangi / merehabilitasi lahan kritis lho baik oleh Pemerintah, Pengusaha, NGO atau masyarakat dalam skala yang besar.
Sedih ya pak, kasihan Ibu Pertiwi kita, ayo rame2 kita bantu Ibu Pertiwi kita, OK nggak nih teman2.
Agen Kultur ; selamat bekerja kita siap mendukung semampu kita pak.
Salam : Bambang